KPU Kota Balikpapan Edukasi Santri Ponpes Asy-Syifa, Tekankan Integritas Hadapi Tantangan Digital
BALIKPAPAN – Dalam upaya mencetak generasi pemilih muda yang cerdas dan kritis, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Balikpapan kembali melaksanakan kegiatan Sosialisasi Pendidikan Pemilih Berkelanjutan Tahun 2026. Kali ini, kegiatan edukasi kepemiluan tersebut diselenggarakan di Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Kota Balikpapan pada Kamis, 27 Agustus 2026. Mengusung tema “Membangun Generasi Santri yang Berintegritas, Kritis dan Bertanggung Jawab dalam Kehidupan Demokrasi”, acara ini menyasar para santriwan dan santriwati yang merupakan kelompok pemilih pemula. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua KPU Kota Balikpapan, Prakoso Yudho Lelono, dan menghadirkan dua narasumber utama, yakni Ketua KPU Kota Balikpapan sendiri serta Pimpinan Pondok Modern Asy-Syifa, KH. Ahmad Yunaini. Tiga Agenda Utama KPU Pasca-Pemilu 2024 Dalam sesi pemaparannya, Prakoso Yudho Lelono menjelaskan bahwa tugas penyelenggara pemilu tidak lantas usai setelah Pemilu dan Pilkada 2024 berakhir. KPU Kota Balikpapan terus bekerja menjalankan tiga program utama secara berkesinambungan, yaitu: Perbaikan dan penguatan sistem informasi terintegrasi. Pelaksanaan pendidikan pemilih berkelanjutan. Pemutakhiran data pemilih berkelanjutan (PDPB). Lebih lanjut, Yudho menegaskan bahwa KPU Kota Balikpapan secara rutin menggelar roadshow edukasi ke berbagai kelompok masyarakat, termasuk di lingkungan pesantren. "Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman dasar kepemiluan dan membangun kesadaran politik para santri sejak dini. Langkah preventif ini diharapkan mampu menciptakan iklim demokrasi yang sehat dengan pemilih yang cerdas serta berintegritas," jelasnya. Benteng Mental dan Spiritual di Era Digitalisasi Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa, KH. Ahmad Yunaini, menitikberatkan materinya pada pentingnya pembentukan benteng mental dan spiritual bagi para santri dalam menghadapi disrupsi era digitalisasi. Beliau berpesan agar ketika para santri kelak melangkah ke jenjang pendidikan tinggi atau memasuki dunia kerja, mereka harus selalu memegang teguh nilai-nilai dasar kepesantrenan, seperti sikap keikhlasan, kejujuran, dan rasa tanggung jawab. "Penggunaan teknologi dan media sosial harus disikapi secara bijak serta hati-hati agar tidak membawa dampak negatif. Jadikanlah teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan keimanan, kualitas ibadah, dan jalan menuju keberhasilan," pesan KH. Ahmad Yunaini. Kegiatan sosialisasi yang berlangsung penuh antusiasme ini turut dihadiri oleh Kepala Subbagian (Kasubbag) Partisipasi dan Hubungan Masyarakat (Parhubmas) dan SDM, jajaran Staf Sekretariat KPU Kota Balikpapan, serta ratusan santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa. ....
Gandeng Ponpes Al-Mujahidin, KPU Kota Balikpapan Edukasi Demokrasi bagi Santri Pemilih Pemula
BALIKPAPAN – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Balikpapan kembali menyapa para pemilih pemula melalui kegiatan Sosialisasi Pendidikan Pemilih Berkelanjutan Tahun 2026. Menyasar kalangan pelajar di lingkungan keagamaan, kegiatan strategis ini diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Mujahidin Balikpapan pada Kamis, 27 Agustus 2026. Mengusung tema “Membangun Generasi Santri yang Berintegritas, Kritis dan Bertanggung Jawab dalam Kehidupan Demokrasi”, acara ini berlangsung interaktif dan disambut antusias oleh para santriwan serta santriwati. Kesadaran Politik Berlandaskan Nilai Keislaman Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh Ketua KPU Kota Balikpapan, Prakoso Yudho Lelono, yang juga bertindak sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, Yudho memberikan edukasi politik dasar dengan menjelaskan mekanisme kepemiluan serta menegaskan pentingnya membangun kesadaran politik sejak dini. Yudho mengingatkan bahwa setiap kebijakan publik yang mengatur hajat hidup orang banyak—mulai dari sektor ekonomi, pangan, hingga pendidikan—lahir dari sebuah proses politik. Untuk itu, ia memberikan pembekalan dengan poin-poin krusial berikut: Menyelaraskan prinsip-prinsip demokrasi modern dengan ajaran Al-Qur’an serta nilai kultur kepesantrenan. Mendorong santri untuk secara konsisten melatih mental, akhlak, dan kedalaman keilmuan. Menyiapkan mentalitas santri agar kelak tumbuh menjadi pemimpin yang jujur, adil, dan berintegritas tinggi. Pesantren Sebagai Laboratorium Sosial Demokrasi Turut hadir memperkaya wawasan peserta, Kepala Sekolah Pondok Pesantren Al-Mujahidin Balikpapan, Samino, S.Si., M.Pd. Dalam materinya, Samino menegaskan bahwa institusi pesantren memiliki peran ganda, yakni tidak hanya sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai laboratorium sosial yang aktif menanamkan nilai-nilai demokrasi secara praktis. Hal ini tercermin secara nyata melalui dinamika organisasi santri, salah satunya dalam pemilihan Ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Proses pemilihan internal didesain menggunakan mekanisme pemungutan suara ala standar KPU. Para santri didorong untuk belajar menentukan pilihan secara independen, objektif, dan bebas dari segala bentuk intimidasi. Praktik lapangan ini diyakini menjadi bekal berharga sebelum santri terjun menjadi pemilih pemula yang sesungguhnya di tengah masyarakat. Kegiatan edukatif ini turut dihadiri oleh Kepala Subbagian (Kasubbag) Partisipasi dan Hubungan Masyarakat (Parhubmas) dan SDM, jajaran Staf Sekretariat KPU Kota Balikpapan, serta ratusan santriwan dan santriwati. ....
Rangkul FKUB, KPU Kota Balikpapan Perkuat Stabilitas Politik dan Mitigasi Hoaks SARA
BALIKPAPAN – Suasana penuh kehangatan dan semangat persaudaraan mewarnai kegiatan Sosialisasi Peningkatan Partisipasi Pemilih dan Stabilitas Politik Daerah yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Balikpapan. Bersinergi erat dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Balikpapan, kegiatan strategis ini dilangsungkan di Klenteng Guang Di Miao pada hari Kamis, 20 Agustus 2026. Kegiatan yang mempertemukan penyelenggara pemilu dengan para tokoh dari berbagai elemen agama ini dibuka secara resmi oleh Anggota KPU Kota Balikpapan, Muhammad Rizal. Dalam sambutan pembukanya, Muhammad Rizal menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kehadiran, kehangatan, serta antusiasme para tokoh agama dalam mengawal kualitas demokrasi di Kota Balikpapan. Moderasi Beragama dan Larangan Kampanye di Rumah Ibadah Dalam sesi pemaparan materi, Bapak I Nengah Kayun Widiartana, S.H., selaku narasumber, menyampaikan bahwa kerukunan bangsa dapat terus terwujud melalui sikap toleransi yang dipupuk lewat penguatan moderasi beragama. "Moderasi beragama adalah cara pandang dan perilaku menjalankan ajaran agama secara seimbang dan tidak berlebihan. Indikator pentingnya meliputi komitmen kebangsaan, toleransi, sikap anti-kekerasan, serta penolakan tegas terhadap penggunaan rumah ibadah untuk kegiatan kampanye," paparnya. Pernyataan tersebut sejalan dengan materi utama yang disampaikan oleh Ketua KPU Kota Balikpapan, Prakoso Yudho Lelono. Yudho secara tegas mengingatkan aturan kampanye yang tertuang dalam Pasal 280 ayat (1) huruf h UU No. 7 Tahun 2017, yang melarang keras peserta maupun tim kampanye menggunakan tempat ibadah untuk berkampanye. Lebih lanjut, Yudho juga menjabarkan 5 Indikator Demokrasi Berkualitas, yang meliputi: Bebas: Penentuan pilihan dilakukan tanpa adanya paksaan atau intimidasi. Beradab: Mengedepankan sikap saling menghormati antarsesama. Cerdas: Memilih berdasarkan rekam jejak dan program kerja, bukan karena terprovokasi ujaran kebencian. Adil: Menjadikan pemilu sebagai ruang adu gagasan. Damai: Menerima hasil pemilihan dengan lapang dada atau menempuh jalur hukum yang sah jika terjadi sengketa. Tantangan Pemilih Digital dan Hoaks SARA Jalannya sosialisasi semakin tajam dengan catatan kesimpulan dari Anggota KPU Kota Balikpapan, Suhardi, yang bertindak selaku moderator. Suhardi menyoroti proyeksi tantangan pada Pemilu 2029 mendatang, di mana dominasi pemilih akan bergeser ke generasi yang sangat erat dengan dunia digital. "Potensi pemilih masa depan kita akan didominasi oleh Generasi Alpha yang saat ini duduk di bangku kelas 3 SMP dengan proyeksi sekitar 7 persen, kemudian Generasi Z sekitar 25 persen, dan Milenial. Tantangan terbesar kita di era digital tersebut adalah maraknya ancaman disinformasi dan hoaks yang berbau SARA," urai Suhardi. Komitmen KPU Kota Balikpapan dan Dukungan Lintas Tokoh Melalui kegiatan ini, KPU Kota Balikpapan menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pemilu yang tidak hanya tinggi dari segi kuantitas partisipasi masyarakat, tetapi juga unggul secara kualitas dengan menjunjung tinggi asas, prinsip, dan kode etik penyelenggaraan. Sinergi bersama tokoh agama dinilai sebagai pilar krusial untuk mengedukasi umat, meredam penyebaran hoaks, menolak politik uang, serta memastikan tempat ibadah tetap murni sebagai pusat kedamaian umat. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Sekretaris KPU Kota Balikpapan, jajaran Kasubbag, dan Staf Sekretariat KPU Kota Balikpapan. Dukungan penuh dari lintas agama dibuktikan dengan hadirnya Ketua FKUB Kota Balikpapan (Drs. H. Hakimin MM), beserta jajaran Ketua dan Anggota dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Kerjasama Gereja Balikpapan (BKSGB), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Kevikepan, OMI WALUBI, serta Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Balikpapan. ....
KPU Balikpapan Ajak Komunitas Pemuda dan Otomotif Jadi Pelopor Demokrasi Berkualitas
BALIKPAPAN – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Balikpapan terus melakukan inovasi dalam memperluas jangkauan edukasi politiknya. Pada Rabu, 12 Agustus 2026, KPU Balikpapan merangkul belasan komunitas pemuda dan klub otomotif (bikers) untuk mengikuti kegiatan Sosialisasi Pendidikan Pemilih Berkelanjutan Tahun 2026. Mengambil tempat yang santai dan dekat dengan keseharian anak muda, yakni di Waras Coffee, kegiatan ini mengusung tema “Pemilih Cerdas, Demokrasi Berkualitas.” Membangun Kesadaran Politik untuk Pemimpin Berkualitas Acara ini dibuka secara resmi oleh Ketua KPU Kota Balikpapan, Prakoso Yudho Lelono. Dalam sambutannya, Yudho menekankan bahwa sosialisasi ini bertujuan untuk membangun dan menguatkan kesadaran politik masyarakat Kota Balikpapan, khususnya dari kalangan komunitas. "Harapan kita bersama, melalui kesadaran politik yang baik, Pemilu dan Pilkada ke depan dapat menghasilkan sosok pemimpin maupun perwakilan masyarakat yang mampu membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi daerah," ujar Yudho. Fokus Agenda KPU 2026 dan Edukasi Pemilih Cerdas Dipandu oleh Anggota KPU Kota Balikpapan, Suhardy, selaku moderator, acara dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi. Anggota KPU Kota Balikpapan, Makta, hadir sebagai narasumber pertama yang menjelaskan fokus tugas KPU di tahun 2026 non-tahapan ini. Makta memaparkan tiga agenda utama KPU saat ini, yaitu: pelaksanaan Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB), pelaksanaan Sosialisasi Pendidikan Pemilih Berkelanjutan, serta penguatan dan integrasi Sistem Informasi Pemilu. Turut hadir sebagai narasumber, Akademisi dari Universitas Balikpapan (UNIBA), Bapak Johans Kadir Putra. Dalam paparannya, Johans menitikberatkan pada pentingnya membangun karakter pemilih yang cerdas. Ia juga menyinggung hal teknis seperti parameter kelayakan dalam penentuan lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS). Lebih jauh, Johans membedah berbagai bentuk pelanggaran yang kerap mencoreng pemilihan, seperti praktik politik uang (money politics) dan kampanye hitam (black campaign). Ia membagikan strategi mitigasi untuk menangkal pelanggaran tersebut, dengan harapan kualitas demokrasi yang bersih dapat benar-benar terbangun mulai dari tingkat akar rumput (grassroots). Antusiasme Belasan Komunitas Kegiatan sosialisasi ini mendapat sambutan yang sangat antusias dari berbagai komunitas yang hadir. Solidaritas dan semangat untuk mewujudkan pemilu yang bersih sangat terasa dari partisipasi aktif komunitas-komunitas berikut: Muda Berkarya Community (MBC) Ranger Max Brothers Borneo (RMB) Yamaha N-Max Club Indonesia (YNCI) Yamaha Aerox Club Indonesia (YACI) ZEUS Queen Max Kawasaki Motor Club (KMC) Joktop Konco Bunglon Joker Max Club Indonesia (JMCI) Pura Pura Biker Lexi Bpp Guardian Lady Bikers Kaltim (LBK BPN) Yamaha Vixion Club Indonesia (YVCI) Wirabuana Melalui sinergi bersama komunitas yang memiliki solidaritas dan basis massa yang kuat ini, KPU Kota Balikpapan optimistis bahwa pesan-pesan pemilu damai dan tolak politik uang dapat tersampaikan dengan lebih efektif dan meluas di tengah masyarakat. ....
Fokus 3 Agenda Pasca-Pilkada, KPU Balikpapan Ajak PCNU Wujudkan Demokrasi Berkualitas
BALIKPAPAN – Dalam upaya merawat kualitas demokrasi di Kota Beriman, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Balikpapan terus memperluas sinergi dengan berbagai elemen masyarakat. Pada hari Jumat, 7 Agustus 2026, KPU Balikpapan menggelar kegiatan Sosialisasi Pendidikan Pemilih Berkelanjutan Tahun 2026 bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Balikpapan. Berlangsung di Gedung PCNU Kota Balikpapan, kegiatan ini mengangkat tema strategis, yakni “Demokrasi Berkualitas Berbasis Nilai-Nilai Kebangsaan dan Keislaman”. Acara ini dihadiri langsung oleh Ketua dan Anggota KPU Kota Balikpapan, Ketua PCNU Kota Balikpapan beserta jajaran pengurus, serta staf Sekretariat KPU Kota Balikpapan. Tiga Agenda Utama KPU Pasca-Pilkada Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua KPU Kota Balikpapan, Prakoso Yudho Lelono. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa tugas penyelenggara pemilu tidak lantas berhenti setelah Pilkada usai. KPU tetap menjalankan rutinitas yang berfokus pada tiga pilar utama, yaitu: Pembaruan Sistem Informasi Terintegrasi: Meliputi pemeliharaan aplikasi seperti SIDALIH, SIREKAP, dan SIPOL. Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB): Menjaga akurasi pangkalan data pemilih. Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih Berkelanjutan: Terus memberikan edukasi politik kepada masyarakat luas. Lebih lanjut, Yudho memaparkan fakta demografi politik saat ini. Berdasarkan data pemilih, panggung demokrasi kini didominasi oleh kelompok pemilih muda dari Generasi Z dan Generasi Y (Milenial), yang porsinya mencapai 45 hingga hampir 50 persen dari total keseluruhan pemilih. Tantangan Demokrasi dan Peran Krusial Ulama Sementara itu, Anggota KPU Kota Balikpapan, Suhardy, menyoroti ragam hambatan dalam mewujudkan pemilu yang ideal. Ia menegaskan bahwa tantangan utama demokrasi saat ini adalah masifnya penyebaran hoaks (hoax), maraknya kampanye hitam (black campaign), praktik politik transaksional, hingga munculnya krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah atau pemimpin. Senada dengan hal tersebut, Anggota KPU Kota Balikpapan, Muhammad Rizal, menekankan pentingnya pendekatan moral dan spiritual di tengah masyarakat. Menurutnya, untuk membendung tantangan tersebut, diperlukan peran aktif dari seluruh elemen masyarakat, khususnya para tokoh agama, alim ulama, dan kiai. "Kehadiran ulama sangat krusial untuk terus mengedukasi publik agar tidak terjebak dalam gaya hidup konsumtif yang memicu pragmatisme, serta menjauhi praktik politik transaksional. Semua ini demi melahirkan sosok pemimpin daerah dan bangsa yang benar-benar berkapasitas dan berintegritas," tegas Rizal. Melalui kolaborasi strategis bersama PCNU ini, KPU Kota Balikpapan berharap nilai-nilai kebangsaan yang sejalan dengan ajaran keislaman dapat menjadi benteng moral masyarakat dalam menentukan arah masa depan demokrasi. ....
Rangkul Kelompok Cipayung, KPU Kota Balikpapan Perkuat Literasi Politik Mahasiswa
BALIKPAPAN – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Balikpapan kembali menunjukkan komitmennya dalam merangkul generasi muda. Pada hari Jumat, 24 Juli 2026, KPU Balikpapan menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Pendidikan Pemilih Berkelanjutan bagi Pemilih Muda Tahun 2026. Berlokasi di Asta Coffee, kegiatan kali ini secara khusus menggandeng para aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Cipayung (Cipayung Plus) se-Kota Balikpapan dengan mengusung tema “Menjadi Pemilih Cerdas, Menciptakan Demokrasi Berkualitas”. Peran Strategis Pemuda dalam Demokrasi Acara ini dibuka secara resmi oleh Ketua KPU Kota Balikpapan, Prakoso Yudho Lelono. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa generasi muda, khususnya kalangan mahasiswa, memiliki peran yang sangat strategis dalam menentukan arah demokrasi bangsa ke depan. Menurut Prakoso, pendidikan kepemiluan tidak boleh berhenti pada momentum pemilu saja, melainkan harus terus dilakukan secara berkelanjutan. Langkah ini krusial agar senantiasa lahir pemilih-pemilih muda yang cerdas, kritis, berintegritas, dan mampu berpartisipasi aktif dalam mengawal setiap tahapan demokrasi di daerah. Literasi Kepemiluan dan Integritas Untuk membedah tema secara mendalam, KPU Kota Balikpapan menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya, yakni Akademisi Universitas Balikpapan (UNIBA), Wawan Sanjaya, serta Anggota KPU Kota Balikpapan, Suhardy. Melalui sesi pemaparan materi dan diskusi yang berlangsung interaktif, para peserta diajak untuk memahami esensi literasi kepemiluan. Narasumber juga menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara, serta memperkuat komitmen bersama untuk menolak segala bentuk kecurangan guna mewujudkan pemilu yang demokratis dan berkualitas. Kolaborasi Inklusif Lintas Organisasi Kegiatan sosialisasi ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus konsolidasi gagasan antar-organisasi mahasiswa. Adapun peserta yang hadir mewakili berbagai elemen dari Kelompok Cipayung Plus di Kota Balikpapan, yang meliputi: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Melalui pelibatan aktif dari Kelompok Cipayung Plus ini, KPU Kota Balikpapan berharap pesan-pesan pendidikan pemilih dapat disebarluaskan lebih masif ke basis-basis mahasiswa dan masyarakat, sehingga kualitas demokrasi di Kota Beriman dapat terus meningkat. ....
Publikasi
Opini
PEMILIH CERDAS DI ERA DEMOKRASI DIGITAL Oleh: Suhardy (Anggota KPU Kota Balikpapan – Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan SDM) "Di era digital, Demokrasi tidak hanya soal pertaruhan di bilik suara. Ia kerap kali dipertaruhkan setiap kali kita memilih untuk percaya, membagikan, atau mengabaikan sebuah informasi." Pemilu sering dipahami sebagai momentum ketika rakyat datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk memberikan hak pilihnya. Padahal, proses menentukan pilihan sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum hari pemungutan suara. Berlangsung setiap hari ketika masyarakat membaca berita online, menonton youtube, reels yang menghampiri beranda, komentar di media sosial, hingga pesan yang beredar melalui aplikasi percakapan. Di era digital, ruang kampanye telah berpindah dari lapangan terbuka ke layar telepon genggam. Pertarungan gagasan tidak lagi hanya terjadi melalui debat publik atau pertemuan tatap muka, tetapi juga melalui algoritma media sosial yang setiap hari membentuk cara pandang masyarakat. Di sinilah literasi digital menjadi salah satu prasyarat utama agar demokrasi tumbuh lebih sehat. Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan internet atau mengoperasikan perangkat teknologi. Literasi digital adalah kemampuan untuk mencari, memahami, mengevaluasi, dan mampu memverifikasi informasi secara kritis sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Dalam konteks pemilu, kemampuan ini menjadi benteng pertama untuk melindungi kualitas pilihan politik kita. Seorang pemilih yang memiliki literasi digital yang baik tidak akan mudah terpengaruh oleh judul yang provokatif, potongan video yang viral ataupun narasi yang sengaja dirancang untuk membangkitkan kemarahan. Kesadaran untuk memeriksa sumber informasi, membandingkannya dengan media yang kredibel, melihat konteksnya secara utuh, dan menyadari bahwa tidak semua konten yang viral itu benar. Kemampuan tersebut semakin penting karena perkembangan teknologi menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini mampu menghasilkan gambar, suara, bahkan video yang tampak sangat meyakinkan. Teknologi deepfake misalnya, memungkinkan seseorang terlihat seolah-olah mengucapkan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Tanpa kemampuan berpikir kritis, masyarakat berisiko mengambil keputusan politik berdasarkan informasi yang sengaja dimanipulasi. Laporan World Economic Forum bahkan menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu risiko global terbesar dalam beberapa tahun ke depan. Dalam konteks demokrasi, penyebaran informasi yang salah dapat menurunkan kualitas percakapan publik kita, memperkuat polarisasi, hingga mempengaruhi perilaku memilih masyarakat. Sebelum lebih jauh mempercakapkan tentang pentingnya literasi digital dalam konteks demokrasi, perlu diketahui bahwa pemilu di Indonesia sendiri menunjukkan perkembangan yang menggembirakan dalam tingkat partisipasi pemilih. Partisipasi meningkat dari sekitar 69 persen pada Pemilu 2014 menjadi lebih dari 81 persen pada Pemilu 2019 dan tetap tinggi pada Pemilu 2024 sekitar 81 persen. Pencapaian tersebut menunjukkan terjadi peningkatan kesadaran masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya. Namun, tingginya angka partisipasi belum tentu berbanding lurus dengan kualitas demokrasi. Demokrasi tidak hanya membutuhkan banyak pemilih, tetapi juga membutuhkan pemilih yang mengambil keputusan berdasarkan informasi yang benar. Oleh karena itu, pendidikan pemilih tidak cukup berhenti pada ajakan datang ke TPS “Ayo Mencoblos”. Lebih jauh dari itu adalah memastikan masyarakat datang ke TPS dengan bekal pengetahuan yang memadai. “Cobloslah dengan cerdas” Tantangan ini akan semakin besar menjelang Pemilu 2029. KPU memproyeksikan bahwa Generasi Z, Milenial, dan sebagian Generasi Alpha akan menjadi mayoritas pemilih. Mereka adalah generasi yang lahir dan tumbuh bersama internet. Bisa dibilang DNA mereka adalah digital. Sehingga informasi politik pertama yang mereka terima bukan lagi dari surat kabar atau televisi, melainkan dari media sosial, podcast, video pendek, hingga konten yang direkomendasikan melalui algoritma. Kondisi tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, generasi muda memiliki akses informasi yang lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka dapat mempelajari rekam jejak calon, membaca berbagai sudut pandang, bahkan mengakses dokumen kebijakan secara langsung. Namun di sisi lain, mereka juga menjadi kelompok yang paling rentan terpapar disinformasi. Manipulasi informasi yang cenderung kedap akan konfirmasi. Karena itu, membangun pemilih cerdas menuju Pemilu 2029 pada hakikatnya adalah membangun masyarakat yang melek digital. Literasi digital harus dipandang sebagai bagian dari pendidikan demokrasi. Masyarakat perlu dibiasakan untuk memeriksa sumber informasi, membedakan antara fakta dan opini, memahami konteks sebuah informasi, serta berpikir sebelum membagikan kepada orang lain. Pada saat yang sama, tantangan masyarakat juga masih soal politik uang. Hal dimana bilik suara kita tidak boleh ditentukan oleh besarnya imbalan yang diterima ataupun oleh derasnya arus informasi yang menyesatkan. Pilihan politik harus lahir dari hati nurani, pengetahuan, dan pertimbangan yang rasional. Pada akhirnya, kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang terpilih, tetapi juga oleh bagaimana rakyat menentukan pilihannya. Pemilih yang cerdas lahir dari masyarakat yang memiliki literasi digital yang baik. Menjadi masyarakat yang kritis terhadap informasi, bijak menggunakan media sosial, dan mampu membedakan fakta dari manipulasi dan tentunya konsisten menolak politik uang. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan paling penting bukanlah menjadi yang pertama mengetahui sebuah informasi, melainkan menjadi yang paling bijak dalam mempercayainya. Sebab, masa depan demokrasi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh satu suara di bilik TPS, tetapi juga oleh jutaan keputusan kecil yang kita ambil setiap hari saat mengonsumsi dan menyebarkan informasi.
*Oleh: Prakoso Yudho Lelono Setiap 1 Oktober, kita kembali memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Namun, pertanyaan yang layak diajukan: apakah kesaktian itu masih hidup dalam keseharian generasi muda, atau sekadar menjadi ritual tahunan yang diwarnai upacara dan hafalan sila? Di tengah hiruk-pikuk politik identitas dan derasnya arus informasi di media sosial, Pancasila seakan hadir sebagai slogan yang dikutip, tetapi tidak sungguh-sungguh dipraktikkan. Ironisnya, kelompok yang seharusnya menjadi motor penggerak aktualisasi nilai Pancasila—yakni generasi muda—kadang justru terjebak dalam polarisasi dan konten-konten dangkal yang berjarak dari semangat persatuan dan keadilan sosial. Generasi muda sering digambarkan sebagai pewaris masa depan bangsa, agen perubahan, dan pilar utama demokrasi. Namun, seberapa jauh mereka benar-benar memahami Pancasila. Pancasila bukan hanya sebagai teks hafalan. Tetapi sebagai etika hidup yang membimbing sikap. Hal ini semakin relevan ketika kita menyaksikan betapa cepatnya informasi (baik yang mencerahkan maupun yang menyesatkan) menyebar melalui media sosial, ruang yang paling dekat dengan kehidupan anak muda hari ini. Tidak bisa dipungkiri, banyak anak muda mampu menyebutkan lima sila Pancasila dengan fasih, tetapi hanya sedikit yang berusaha menggali makna filosofis dan implikasi sosial dari sila-sila itu. Ketika Sila Ketiga berbunyi “Persatuan Indonesia”, apakah hal itu hanya sebatas barisan kata, atau benar-benar diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, seperti menolak dan menahan diri turut serta akan ujaran kebencian. Menahan diri dari penyebaran berita hoaks, atau membangun ruang diskusi yang sehat di komunitas dan media sosial? Sayangnya, polarisasi politik beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sebagian generasi muda lebih mudah terbawa arus kontestasi yang sempit daripada memegang teguh nilai persatuan. Media sosial kerap menjadi panggung pertempuran opini yang penuh caci maki, alih-alih menjadi wadah dialog konstruktif. Sila Keempat tentang musyawarah mufakat seakan hilang dalam derasnya debat kusir. Sementara Sila Kedua tentang kemanusiaan yang adil dan beradab sering kali dikalahkan oleh ujaran kasar yang viral. Di sinilah tantangan nyata aktualisasi Pancasila: bagaimana nilai-nilai luhur tidak berhenti pada upacara, simbol, atau hafalan, melainkan masuk ke ruang digital yang setiap hari memengaruhi pikiran dan sikap generasi muda. Namun, ditengah kondisi seperti ini, kita tak patut untuk hanya bermuram durja dan berhenti pada sikap pesimistis. Banyak juga contoh anak muda yang berusaha menghidupkan Pancasila dalam aksi nyata. Komunitas literasi yang membuka ruang baca gratis di kampung-kampung, gerakan lingkungan yang memperjuangkan kelestarian alam, hingga inisiatif kreatif di media sosial yang menyebarkan konten edukatif dan toleran. Semua itu adalah bukti bahwa nilai-nilai Pancasila bisa aktual dan relevan, bahkan di era digital. Mereka membuktikan bahwa menjadi “pancasialis” bukan berarti mengulang jargon, melainkan mengintegrasikan nilai kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial ke dalam tindakan sehari-hari. Dalam konteks komunitas, generasi muda punya peran besar sebagai penggerak. Misalnya, kegiatan bakti sosial, gerakan berbagi makanan bagi kaum dhuafa, atau program diskusi lintas agama yang digagas di banyak kota besar. Aktivitas sederhana ini adalah wujud nyata sila-sila Pancasila: kepedulian pada sesama, penguatan solidaritas, dan penghormatan terhadap perbedaan. Jika nilai ini dipelihara sejak dini, generasi muda tidak hanya menghafal sila, melainkan merasakan makna hidup bersama dalam keberagaman. Sementara di media sosial, tantangannya lebih berat. Dunia digital memang rawan dipenuhi dengan narasi kebencian, hoaks, dan ujaran provokatif. Namun, justru di ruang ini generasi muda bisa membuktikan bahwa mereka mampu mengaktualisasikan Pancasila. Dengan membangun konten yang mengedepankan toleransi, memviralkan aksi positif, atau menyuarakan kritik yang santun dan berbasis data. Anak muda bisa menjadikan media sosial sebagai “laboratorium Pancasila.” Keberanian untuk melawan arus negatif dengan kreativitas positif adalah bentuk kesaktian baru Pancasila di abad ke-21 ini. Momentum Hari Kesaktian Pancasila tahun ini seharusnya tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi ruang refleksi mendalam, khususnya bagi generasi muda. Apakah kita akan puas menjadi generasi penghafal sila, atau kita berani dan mampu menjadi generasi penggerak yang menjadikan Pancasila sebagai napas perjuangan di tengah tantangan zaman? Pertanyaan ini bukan sekadar retorika, melainkan ajakan untuk melihat diri sendiri: sudahkah kita benar-benar menghadirkan nilai Pancasila dalam sikap, ucapan, dan tindakan? Pancasila tidak menuntut kita menghafalnya dengan mulut yang fasih. Tetapi menagih konsistensi pada tindakan yang membela kemanusiaan, merawat persatuan, menghidupkan musyawarah, dan memperjuangkan keadilan. Media sosial, komunitas, maupun ruang publik lainnya harus dijadikan laboratorium aktualisasi nilai-nilai tersebut. Jika generasi muda berani mengambil peran ini, maka Pancasila tidak hanya sakti karena pernah menyelamatkan bangsa di masa lalu, melainkan juga akan terus hidup, bekerja, dan menyelamatkan bangsa di masa depan. *Ketua KPU Kota Balikpapan
Oleh: Prakoso Yudho L. *Ketua KPU Kota Balikpapan, pemerhati sosial-politik dan penggerak literasi demokrasi. Hari ini, Jumat, 27 Juni 2025 bertepatan dengan 1 Muharram 1447 H. Tahun Baru Islam. Semalam tidak tampak kegiatan dan acara acara dengan euphoria. Tidak ada pesta kembang api atau panggung hiburan besar-besaran. Suasana teduh, penuh makna, dan sarat renungan. Bagi umat Islam, 1 Muharram bukan sekadar pergantian kalender, tapi momentum spiritual yang kuat: peringatan hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah. Sebuah perjalanan monumental yang bukan hanya berpindah tempat, tapi juga perubahan arah, nilai, dan peradaban. Dalam konteks Indonesia hari ini, apalagi menjelang Pilkada di berbagai daerah, semangat hijrah sepatutnya tidak hanya diperingati, tapi juga dihayati. Terutama oleh mereka yang mengemban atau berambisi untuk mengemban amanah kepemimpinan. Hijrah hari ini bukan lagi tentang langkah kaki menuju kota baru, melainkan langkah hati dan pikiran menuju moralitas yang lebih luhur dalam berpolitik dan memimpin. Belajar dari Hijrah Nabi Mari kita mundur sejenak ke lebih dari 1400 tahun lalu. Ketika Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya hijrah ke Madinah, mereka tidak hanya mencari perlindungan, tapi membawa misi peradaban: membangun masyarakat baru yang adil, terbuka, dan beradab. Di Madinah, Rasulullah SAW tidak hanya berperan sebagai nabi dan utusan Tuhan, tapi juga sebagai pemimpin politik, kepala negara, sekaligus pemersatu suku dan golongan yang sebelumnya saling bermusuhan. Dari hijrah inilah lahir konstitusi pertama dalam sejarah Islam yaitu Piagam Madinah. Dimana ada komitmen menjamin kebebasan beragama, kesetaraan hak, dan keadilan sosial. Ini bukan dongeng belaka. Ini adalah realitas sejarah yang membuktikan bahwa moralitas dan spiritualitas tidak bisa dipisahkan dari kepemimpinan dan politik. Sekarang mari kita tengok kehidupan kita saat ini. Apa yang kita lihat di panggung politik hari ini? Sayangnya, politik masih sering dipersepsikan sebagai ruang adu siasat an sich. Saling jegal, bahkan saling intrik licik yang jauh dari nilai-nilai moral. Bukan rahasia lagi bahwa politik di negeri ini kerap disandera oleh pragmatisme dan kepentingan jangka pendek. Ada yang rela mengorbankan idealisme demi kursi kekuasaan. Ada juga yang menjadikan politik sebagai kendaraan pribadi, bukan amanah public, dan celakanya hanya untuk kepentingan pribadi atau paling banter untuk kepentingan kelompok dan golongan masing masing. Ironis bukan? Dalam suasana semacam ini, semangat hijrah menjadi sangat relevan. Hijrah dalam makna yang luas dan dalam. Yaknni Hijrah dalam artian berproses transformasi menyeluruh, baik secara spiritual, sosial, maupun kultural. Hijrah bukan hanya soal pindah tempat, tetapi tentang kemauan untuk berubah ke arah yang lebih baik, dengan tekad, istiqamah, dan kontribusi nyata bagi diri sendiri dan lingkungan, serta sosial. Dalam konteks politik, hijrah disini bermakna proses perubahan dari politik transaksional menuju politik yang transformatif. Hijrah dari ambisi pribadi ke misi kolektif. Hijrah dari politik identitas ke politik gagasan. Dan tentu saja, hijrah dari politik kotor menuju politik bermartabat. Moralitas: Kompas Kepemimpinan Dalam Alquran, pemimpin itu digambarkan sebagai orang yang bisa dipercaya (al-amin), punya integritas, dan adil. Sifat-sifat itu bukan sekadar etika individu, tapi syarat mutlak dalam kepemimpinan publik. Seorang pemimpin yang bermoral tidak akan menjadikan kekuasaan sebagai ladang mencari keuntungan, tapi sebagai ladang pengabdian. Ia akan memandang rakyat bukan sebagai komditi meraup suara angka di TPS, melainkan sebagai manusia yang harus didengar, dilayani, dan diperjuangkan haknya. Maka, mari kita renungkan. Sudahkah calon-calon pemimpin kita hari ini memiliki niat yang jernih dan mesujud dalam setiap kebijakannya? Kalaupun sudah, seberapa besar persentasenya? Sudahkah mereka siap untuk berhijrah dari pola pikir kekuasaan ke pola pikir pelayanan? Jangan-jangan, hanya soal bagaimana menang, bukan bagaimana membangun. Sebagai pemilih, kita juga harus ikut berhijrah. Berhijrah dari apatisme ke partisipasi. Berhijrah dari memilih berdasarkan “siapa yang bagi sembako” ke “siapa yang punya gagasan dan rekam jejak”. Jangan sampai semangat hijrah hanya berhenti di mimbar-mimbar pengajian, tapi tidak menembus bilik suara. Sebagai penyelenggara pemilu, saya berkomitmen memulai dari diri pribadi dan lingkungan di sekitar saya untuk tetap dan terus menjaga semangat hijrah. Dengan memaknai hijrah sebagai upaya menjaga integritas dan profesionalisme. Menjaga agar demokrasi tidak dicederai oleh kecurangan dan manipulasi. Memberikan ruang yang adil dan setara bagi semua peserta. Karena pemilu yang bersih adalah fondasi utama bagi lahirnya kepemimpinan yang bermoral. Hijrah tidak bisa hanya dimaknai secara simbolik. Ia adalah gerakan perubahan. Dari keterpurukan menuju perbaikan. Dari gelap menuju terang. Dari kebohongan menuju kebenaran. Dalam politik, ini berarti komitmen untuk memperbaiki sistem, membangun kepercayaan publik, dan menempatkan etika sebagai fondasi utama pengambilan keputusan. Bayangkan jika seluruh pemimpin di negeri ini benar-benar menghidupi semangat hijrah. Tidak lagi “menyembah” kekuasaan, tapi melayani kebaikan. Tidak lagi mempertajam polarisasi, tapi merajut persatuan. Maka politik bukan lagi sesuatu yang kotor, tapi menjadi jalan mulia untuk membangun masa depan bangsa. Dan hal itu akan menjadi investasi jangka Panjang, untuk kehidupan setelah kehidupan dunia ini. Tahun Baru Islam bukan sekadar seremoni. Ini adalah undangan untuk merenung dan berubah. Hijrah bukan nostalgia sejarah, tapi ajakan untuk terus bergerak menuju kebaikan. Dalam konteks politik dan kepemimpinan, hijrah adalah ajakan untuk memaknai kekuasaan sebagai amanah, bukan kesempatan. Kita membutuhkan lebih banyak pemimpin yang mau berhijrah: dari sekadar pencitraan ke keteladanan, dari retorika ke etika, dari dominasi ke kolaborasi. Mari kita sambut 1447 Hijriah dengan tekad untuk menghidupkan kembali politik yang bermoral, kepemimpinan yang jujur, dan demokrasi yang sehat. Akhirnya, selamat merayakan tahun baru Islam 1447 H. Semoga semangat hijrah Rasulullah SAW menjadi suluh bagi perjalanan bangsa ini. Dimulai dari diri pribadi, semoga berdampak pada lingkungan sosial kita.
Rasanya mafhum bagi bangsa Indonesia setiap 21 April merupakan hari Kartini. Sebagai bentuk mengenang salah satu sosok wantia yang memperjuangkan hak perempuan. Ia tidak hanya seorang perempuan yang menulis surat-surat panjang penuh gelora pikir, tetapi juga penanda zaman—sebuah simbol tentang bagaimana suara perempuan tak selayaknya dibungkam oleh batas dan kebiasaan. Bagi saya, mengenang Kartini bukan perkara seremonial. Ini adalah soal refleksi. Utamanya sebagai bagian dari penyelenggara demokrasi di tingkat lokal. Dalam kerja-kerja kepemiluan, saya menyaksikan langsung bagaimana ruang-ruang publik masih belum sepenuhnya ramah bagi perempuan, meski berbagai regulasi telah memberi jalan. Representasi politik perempuan sering kali masih menjadi angka statistik yang dikejar, bukan kesadaran yang sungguh-sungguh dihidupi. Padahal, demokrasi yang sehat harus membuka ruang partisipasi seluas-luasnya. Perempuan bukan hanya pemilih, mereka adalah pembentuk arah. Dalam setiap rumah, dalam komunitas, dan mestinya—dalam ruang-ruang pengambilan keputusan publik. Saya teringat bagaimana tulisan korespondensi Kartini kepada kurang lebih 106 sahabat penanya. Di kemudian hari disusun oleh salah satu sahabat penanya, Jascque Abendanon. Dikenal dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Bahwa Kartini menulis tentang “gelap pekat” kehidupan kaum perempuan yang perlahan-lahan harus dilawan dengan cahaya ilmu, pendidikan, dan keberanian. Emansipasi, bagi Kartini, bukan tentang menyerupai laki-laki, tetapi tentang menyadari potensi dirinya sebagai manusia yang utuh, bebas, dan merdeka. Kini, lebih dari seabad setelah Kartini berpulang, kita masih menghadapi tantangan yang tak sederhana. Perempuan yang hendak tampil sebagai pemimpin sering harus melipatgandakan usahanya. Ia harus tampil cakap, tangguh, dan tetap dianggap “diterima” dalam konstruksi sosial yang masih bias. Tidak sedikit pula yang tersandera oleh beban ganda—antara harapan publik dan urusan domestik yang belum terbagi adil. Namun harapan haruslah tetap tumbuh dan dikawal. Di Balikpapan, saya melihat semakin banyak perempuan yang aktif dalam kerja-kerja pemilu—sebagai penyelenggara, pengawas, relawan, hingga penggerak komunitas. Mereka hadir dengan dedikasi, integritas, dan kepekaan yang menjadi nilai tambah bagi demokrasi kita. Beberapa dari mereka bahkan menjadi pemimpin di tingkat kecamatan dan kelurahan dalam struktur adhoc penyelenggara pemilu. Ada yang memimpin logistik, mengelola perencanaan, hingga menjadi juru bicara yang mampu menjembatani pemilih dengan informasi yang mencerahkan. Mereka tidak hanya bekerja dengan sistem, tetapi dengan hati. Kita juga tidak boleh melupakan tokoh-tokoh perempuan di Kalimantan Timur yang selama ini menjadi pionir dalam pembangunan sosial dan politik. Baik di DPRD, dalam organisasi masyarakat, maupun sebagai tokoh adat dan budaya. Keteladanan mereka membuktikan bahwa kepemimpinan tidak mengenal jenis kelamin—ia adalah soal visi dan keberanian mengambil tanggung jawab. Tugas kita bersama hari ini adalah merawat ruang ini. Membuka kesempatan lebih luas, mendorong afirmasi yang sehat, dan mendidik publik untuk menilai kepemimpinan bukan dari jenis kelamin, melainkan dari kapasitas, rekam jejak, dan komitmen. Sebagai seorang yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren, saya meyakini bahwa nilai-nilai keadilan dan kesetaraan adalah bagian dari ajaran luhur yang diwariskan para guru kami. Dan Kartini, dalam versinya sendiri, telah menunjukkan bagaimana nilai-nilai itu bisa diperjuangkan lewat tulisan, keberanian, dan ketulusan. Kartini mengawali perjuangan ini dengan pena. Kini, sepatutnya kita melanjutkannya dengan kebijakan, kebudayaan, dan keberanian untuk mengubah cara pandang. Sebab demokrasi sejati bukan hanya tentang suara yang dihitung, tapi tentang siapa yang benar-benar diberi ruang untuk bersuara. Prakoso Yudho Lelono
Penulis: Prakoso Yudho Lelono, S.H.I Ketua KPU Kota Balikpapan SETIAP tahun, tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, sebagai penghormatan pada semangat yang diusung oleh Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan bangsa Indonesia. Beliau mengajarkan bahwa pendidikan adalah jalan menuju kemerdekaan. Namun, pada kesempatan kali ini saya ingin mengajak kita semua memperingati Hardiknas dengan sudut pandang reflektif. Sebagai wujud semangat, hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan esok harus lebih baik daripada hari ini. Setiap peringatan Hardiknas menyimpan rasa hormat pada semangat yang diusung. Tapi di sisi lain, sebagai bentuk pemikiran yang reflektif, ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama: sudahkah pendidikan kita hari ini benar-benar memerdekakan? Sebagai penyelenggara pemilu di Kota Balikpapan, saya memang bukan guru, bukan kepala sekolah, apalagi pakar pendidikan. Tapi saya percaya, kerja-kerja demokrasi yang saya jalani sehari-hari sampai hari ini tidak bisa dilepaskan dari kualitas pendidikan bangsa ini. Demokrasi yang sehat hanya mungkin tumbuh dari rakyat yang berpengetahuan, beretika, dan memiliki nalar kritis. Itu semua dibentuk dari proses pendidikan, sejak dini. Pendidikan Politik Sejak Dini Saya berkeyakinan bahwa pendidikan adalah akar dari semua proses demokrasi. Di ruang kelas, anak-anak belajar tentang nilai, tanggung jawab, dan kebersamaan. Kalau nilai-nilai itu kuat sejak kecil, mereka akan tumbuh menjadi warga negara yang sadar dan peduli. Mereka tidak akan mudah diseret oleh politik uang, tidak mudah terprovokasi oleh berita hoaks, apalagi apatis terhadap proses politik. Karena pemahaman dan kesadaran terhadap proses politik telah ditanamkan sejak dini. Sebaliknya, jika ruang-ruang pendidikan justru membentuk sikap pasif, asal ikut-ikutan, atau bahkan membenarkan praktik curang, maka kita sedang menanam benih krisis demokrasi. Pilkada Balikpapan 2024 yang baru saja kita lewati memberi banyak pelajaran. Kami di KPU Kota Balikpapan telah berusaha membangun tata kelola yang transparan dan akuntabel, tetapi semua itu tidak akan berarti jika masyarakat kita belum punya kesadaran kritis untuk ikut menjaga prosesnya. Dan kesadaran itu hanya mungkin lahir dari pendidikan yang membebaskan. Pendidikan politik sejak dini merupakan suatu keniscayaan, dan harus kita kawal bersama. Saya percaya hal ini telah berlangsung, tetapi perlu kita tingkatkan bersama. Untuk itu saya sering membayangkan: bagaimana jika sejak SMP atau SMA, anak-anak diajak untuk berdiskusi tentang perbedaan pandangan politik, belajar tentang proses pemilu, bahkan dilatih untuk menjadi pemimpin dalam organisasi sekolah? Bukan untuk membuat mereka “dewasa sebelum waktunya”, tetapi agar mereka paham bahwa politik bukan melulu soal praktik taktik mencapai tujuan dengan cara yang kotor. Melainkan ada sudut pandang positif lainnya yang perlu mereka ketahui: bahwa proses politik akan menghasilkan kebijakan yang menentukan nasib suatu masyarakat. Pendek kata, semua aktivitas masyarakat tidak terlepas dari kebijakan politik. Terlalu lama kita memisahkan pendidikan dari kehidupan publik. Padahal, pendidikan yang baik harus mampu membentuk manusia yang berpikir, beretika, dan berani mengambil peran. Pendidikan seharusnya tidak hanya mencetak sarjana, tapi juga membentuk warga negara yang sadar. Pendidikan, Antara Idealitas dan Realitas Saya pribadi sangat setuju dan menyambut baik semangat Merdeka Belajar. Gagasan itu punya ruh yang kuat: bahwa setiap anak punya cara belajar masing-masing, dan pendidikan harus memberi ruang bagi keberagaman. Tapi implementasinya masih jauh dari harapan. Tak jarang ditemui banyak guru yang belum dibekali pelatihan cukup. Sekolah-sekolah di daerah pelosok negeri ini kesulitan menyesuaikan kurikulum. Dan sering kali, kita masih terjebak dalam angka-angka: nilai, peringkat, akreditasi—hal-hal yang kadang mengaburkan tujuan sejati pendidikan itu sendiri. Jika kita ingin pendidikan yang benar-benar memerdekakan, maka kita harus berani beranjak dari paradigma lama. Pendidikan bukan pabrik ijazah. Ia adalah proses panjang membentuk manusia seutuhnya. Di era globalisasi saat ini, pendidikan karakter menjadi sangat relevan dan mendesak. Dunia kerja dan masyarakat menuntut lebih dari sekadar kecakapan akademik; integritas, empati, kerja sama, dan ketahanan mental menjadi kualitas yang sangat dibutuhkan. Pendidikan karakter membantu peserta didik mengenali dan membentuk nilai-nilai dasar yang akan mereka pegang seumur hidup. Di tengah gempuran informasi digital, banjir opini di media sosial, dan tekanan hidup yang semakin kompleks, karakter yang kuat menjadi jangkar yang menjaga seseorang tetap berpijak. Maka, pendidikan kita harus berani meletakkan karakter sebagai fondasi utama, bukan pelengkap semata. Balikpapan dan Masa Depan Pendidikan Balikpapan sebagai kota penyangga Ibu Kota Negara (IKN) punya tantangan besar. Pembangunan fisik di kota ini begitu pesat. Tapi, apakah kita sudah seimbang membangun manusianya? Kota ini tidak boleh hanya punya jalan tol dan pelabuhan megah. Kota ini harus punya sekolah yang inklusif, guru-guru yang sejahtera, dan ruang belajar yang ramah bagi semua anak. Pendidikan harus jadi investasi jangka panjang kita. Karena tanpa pendidikan, semua kemajuan itu akan kosong. Sebagai penyelenggara pemilu, saya berharap pemilu dan semua penyelenggaraan suksesi kepemimpinan ke depan diikuti oleh generasi yang lebih melek informasi, lebih kritis, dan lebih peduli. Dan itu harus terus kita gaungkan dari ruang-ruang pendidikan kita. Saya bukan hendak menggurui. Saya hanya ingin mengajak kita semua—orang tua, guru, pejabat berwenang, warga biasa (kita semua)—untuk turut serta merefleksikan kembali arah pendidikan kita. Apakah ia benar-benar membebaskan, atau justru makin menekan? Apakah ia menguatkan masyarakat, atau justru menciptakan ketimpangan baru? Hari Pendidikan Nasional tidak cukup hanya diperingati dengan upacara atau kata-kata indah. Ia harus jadi waktu untuk menengok ke dalam dan bertanya: sudah sejauh mana kita memberi kesempatan yang adil bagi setiap anak bangsa untuk tumbuh dan belajar? Semoga kita tidak lelah memperjuangkan pendidikan yang berpihak pada semua. Pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan, tapi juga manusia-manusia yang berani berpikir, jujur bertindak, dan siap membangun bangsa. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2025.